HULU SUNGAI SELATAN | Bidikutama7.com
Kisah tentang Ibnu Hadjar, tokoh perjuangan yang kemudian dikenal dalam sejarah terkait gerakan DI/TII di Kalimantan Selatan, kembali diungkap dari sisi yang berbeda.
H. Junaidi menceritakan kisah kedekatan ayahnya dengan Haderi bin Umar atau yang dikenal dengan nama Ibnu Hadjar, tokoh asal Ambutun, Kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Kisah tersebut disampaikan H. Junaidi dalam wawancara dengan lintasindonesianews.com pada 5 Oktober 2026.
“Orang hanya tahu Ibnu Hadjar itu pemberontak DI/TII. Padahal di mata ayah saya, beliau adalah sosok yang sangat dekat, pemberani, dan punya alasan kuat atas perjuangannya,” ungkap H. Junaidi. Selasa, (6/10/26).
Menurut H. Junaidi, ayahnya sering menceritakan hubungan dan kedekatannya dengan Ibnu Hadjar sebelum terjadinya berbagai konflik bersenjata di Kalimantan Selatan.
Ia menyebut, cerita tersebut memperlihatkan sisi lain Ibnu Hadjar yang menurutnya belum banyak diketahui masyarakat, terutama mengenai hubungan personal dan kehidupan sosial para tokoh di pedalaman Kalimantan pada masa itu.
Dalam penuturannya, Ibnu Hadjar disebut pernah menjalani kehidupan sebagai petani dan pencari madu sebelum kemudian menjalani perjalanan perjuangan bersenjata dan pernah tercatat sebagai Letnan Dua TNI.
H. Junaidi juga menceritakan bahwa sebelum peristiwa Oktober 1950, Ibnu Hadjar bersama kelompoknya yang dikenal sebagai Kesatuan Rakyat yang Tertindas melakukan perlawanan di Kalimantan Selatan.
Meski demikian, H. Junaidi menegaskan bahwa kisah tersebut bukan dimaksudkan untuk mengagungkan atau membenarkan gerakan pemberontakan yang kemudian dikaitkan dengan Ibnu Hadjar.
“Ini jejak perjuangan yang harus diluruskan, bukan untuk mengagungkan pemberontakan, tapi untuk memahami konteks zamannya,” kata H. Junaidi.
Ibnu Hadjar kemudian ditangkap dan menjalani proses hukum. Ia wafat di Jakarta pada 22 Maret 1965 dalam usia 44 tahun.
Kisah yang disampaikan H. Junaidi menjadi salah satu kesaksian keluarga mengenai sejarah lokal Kalimantan Selatan. Kesaksian tersebut tetap perlu ditempatkan dalam konteks sejarah dan dibandingkan dengan arsip, dokumen, serta sumber sejarah lainnya.
Reporter: Gunawan, A.Md., S.H
Editor: Asp
Sumber: Wawancara H. Junaidi kepada lintasindonesianews.com, 5 Oktober 2026





