Bidikutama7.com, Pontianak, Kalbar-
Peringatan HUT ke-6 Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kalimantan Barat diwarnai pernyataan kontroversial dari Gubernur Kalbar, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H., yang menyebut media online sebagai “wartawan bodrex”. Istilah ini lazim digunakan untuk merujuk pada jurnalis yang dianggap tidak profesional atau abal-abal.
Acara yang digelar di Pontianak pada Sabtu (9/8/2025) awalnya berlangsung hangat, diawali ucapan selamat dari Gubernur kepada insan televisi. Namun, dalam sambutannya, Norsan menyinggung fenomena maraknya media online yang kerap berganti nama atau akun, tetapi tetap dikelola orang yang sama. Minggu, (10/8).
“Ini yang saya sebut wartawan bodrex. Rawan sekali disalahgunakan,” ujar Norsan, sembari menegaskan bahwa media televisi masih menjadi tumpuan utama masyarakat di tengah derasnya arus informasi.

Pernyataan tersebut sontak memicu bisik-bisik di kalangan jurnalis yang hadir. Bagi sebagian wartawan, istilah itu terdengar merendahkan profesi mereka, khususnya di era digital saat media online berkembang pesat.
Meski demikian, Gubernur Kalbar menegaskan dirinya terbuka terhadap kritik, selama dilakukan dalam konteks kebijakan dan disertai bukti.
“Kalau mengkritik kebijakan, silakan. Sampai titik terakhir pun saya siap menerima. Tapi kalau sudah menyentuh hal pribadi dan tidak bisa dibuktikan, saya tidak akan tinggal diam,” tegasnya.
Norsan juga mengajak insan pers untuk terus menjaga kemitraan dengan pemerintah.
“Media adalah mitra pemerintah. Tanpa media, kami tidak bisa menyampaikan program dan kebijakan kepada masyarakat. Mari kita bersihkan hubungan antara media dan pemerintah,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari IJTI Kalbar terkait komentar tersebut. Sejumlah jurnalis online di Kalbar juga mengaku menunggu klarifikasi lebih lanjut dari pihak gubernur, mengingat ucapan tersebut dilontarkan di forum resmi perayaan organisasi wartawan.(Yuli)





