Oleh: Gunawan, A.Md.,S.H | Redaksi
BANJARMASIN | Bidikutama7.com
Kawasan Antasan Kecil Timur (AKT) dan sekitarnya berubah menjadi lautan putih pada Sabtu malam. Ribuan jemaah dari berbagai penjuru Kalimantan hingga luar pulau membanjiri Banjarmasin untuk menghadiri peringatan Haul ke-6 ulama kharismatik Banua, KH. Ahmad Zuhdiannoor atau yang akrab disapa Guru Zuhdi (Abah Haji). Sabtu (14/2/26).
Pantauan di lokasi menunjukkan arus kedatangan massa sudah memuncak sejak sore hari. Para jemaah yang didominasi pakaian serba putih memadati setiap sudut jalan menuju kawasan Masjid Jami dan kubah beliau dengan penuh antusiasme, namun tetap tertib dan khidmat.

Kekhusyukan Acara Inti
Acara inti dimulai selepas salat Maghrib, diawali dengan pembacaan syair-syair Maulid Habsyi yang menggema syahdu. Suasana haru dan khusyuk menyelimuti lokasi saat lantunan zikir, tahlil, serta doa bersama dipanjatkan untuk mengenang sosok ulama yang dikenal rendah hati dan memiliki pesan dakwah yang menyejukkan hati.
“Kami datang dari Kapuas sejak pagi tadi supaya bisa mendapat posisi di depan. Rindu dengan petuah-petuah beliau yang selalu membuat hati tenang,” ujar Ahmad (34), salah satu jemaah.
Pengamanan dan Pengaturan Lalu Lintas
Untuk memastikan kelancaran acara di tengah membludaknya jemaah, panitia bersama aparat gabungan serta ribuan relawan dari berbagai Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) melakukan persiapan matang, di antaranya:
Penyekatan Arus
Sejak pukul 16.00 WITA, akses menuju Jalan Masjid Jami dan Jalan Sulawesi dialihkan secara situasional. Kendaraan roda empat dilarang masuk ke area inti. Titik parkir utama dipusatkan di area Menara Pandang, Lapangan Kamboja, serta sepanjang tepian Sungai Martapura.
Logistik dan Dapur Umum
Lebih dari 50 titik dapur umum mandiri didirikan oleh warga sekitar secara sukarela. Ribuan bungkus nasi samin dan air mineral dibagikan gratis sebagai bentuk pelayanan kepada para tamu ulama.
Posko Kesehatan
Dinas Kesehatan setempat bersama tim medis relawan menyiagakan ambulans di sejumlah titik krusial, seperti Jembatan Sulawesi dan pintu masuk Masjid Jami, guna mengantisipasi jemaah yang mengalami kelelahan.
Jalur Sungai Jadi Alternatif Favorit
Keunikan lainnya, jalur Sungai Martapura turut menjadi pilihan utama. Ratusan jemaah menggunakan klotok—perahu motor khas Banjar—untuk mencapai lokasi dan menghindari kemacetan darat. Pemandangan sungai yang dipenuhi cahaya lampu klotok menghadirkan suasana magis dan syahdu pada malam peringatan haul.
Warisan Tawadhu yang Tak Lekang Waktu
Peringatan haul ini menjadi bukti besarnya kecintaan masyarakat terhadap Guru Zuhdi. Meski raga beliau telah tiada, ajaran tentang sifat tawadhu (rendah hati) dan keteladanan yang diwariskan tetap hidup di hati para pecintanya.
“Haul ini adalah cara kami melepas rindu sekaligus mengambil berkah dari ilmu-ilmu yang pernah beliau ajarkan,” ungkap Rahman, jemaah asal Barito Kuala.
Acara ditutup dengan doa keselamatan bagi umat, bangsa, dan negara. Kepulangan jemaah terpantau berlangsung lancar di bawah arahan relawan dan aparat yang tetap bersiaga hingga malam berakhir.





