Oleh: Rudi | Redaksi 

JAKARTA | Bidikutama7.com

Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan suasana meriah, hidangan lezat, dan… hujan. Setiap tahun, banyak yang bertanya-tanya mengapa Imlek seringkali disertai hujan. Apakah ini sekadar fenomena alam biasa, ataukah ada makna yang lebih dalam?

Secara ilmiah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa Imlek biasanya jatuh pada bulan Januari atau Februari, yang merupakan puncak musim hujan di Indonesia. Letak geografis Indonesia di garis khatulistiwa juga menyebabkan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Jumat (13/2/26).

Namun, bagi masyarakat Tionghoa, hujan saat Imlek memiliki makna tersendiri. Hujan dianggap sebagai simbol keberuntungan, kemakmuran, dan berkah dari langit. Hujan dipercaya membawa kesuburan dan membersihkan energi negatif, membuka jalan bagi hal-hal positif di tahun baru.

Ahli feng shui juga berpendapat bahwa hujan deras saat Imlek membawa keberuntungan bagi wilayah yang diguyur hujan. Bahkan, ada mitos yang mengatakan bahwa hujan adalah tanda Dewi Kwan Im sedang menyiram bunga Mei Hwa.

Terlepas dari penjelasan ilmiah atau kepercayaan tradisional, hujan saat Imlek tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini di Indonesia. Bagi sebagian orang, hujan mungkin mengganggu rencana perayaan. Namun, bagi banyak orang lainnya, hujan adalah berkah yang membawa harapan untuk tahun yang lebih baik.